Ummul mukminin, Aisyah ra berkata: …sehingga tibalah masa turunnya wahyu yang haq ketika Nabi di gua Hira. Maka datanglah Malaikat dan menyuruhnya: Iqra’. Nabi saw berkata: Maa ana biqaari’, tiba-tiba malaikat mendekapnya sehingga habis tenaganya, kemudian dilepas dan diperintah: Iqra’.
Dijawab: Maa ana biqaari’…, maka didekap untuk ketiga kalinya, kemudian dilepas dan diperintah Iqra’ bismi rabbikalladzii khalaqa, khalaqal insaana min ‘alaq, iqra’ wa rabbukal akram. (Kumpulan Hadits Bukhari Muslim, Bab: Pertama Turunnya Wahyu)
Maa ana biqaari’, bisa berarti: Aku tidak dapat membaca, atau Apa yang akan aku baca. Baik arti pertama, maupun arti kedua, itu menunjukkan bahwa Malaikat Jibril as tidak membentangkan tulisan di hadapan Nabi saw.
Jadi perintah Iqra dalam ayat Iqra’ bismi rabbikalladzii khalaqa, khalaqal insaana min ‘alaq, iqra’ wa rabbukal akram’, bukanlah membaca dari tulisan. Maknanya yang lebih spesifik yaitu membaca ayat dalam salat, membaca dari ingatan (qara’a ‘an zhahri qalbin, to recite from memory), sedangkan makna yang lebih luas dari membaca bukan dari tulisan, ialah mengkaji ayat qawliyah (ayat verbal) yaitu Alquran dan membaca ayat Kawniyah (ayat kosmologis) yaitu alam semesta.
***
Dalam artikelnya yang berjudul “Merenungkan Sejarah Alquran”, Luthfi Assyaukanie yang editor Jaringan “Islam” Liberal (JIL) membual: “Alquran kemudian mengalami berbagai proses copy-editing oleh para sahabat, tabi’in, ahli bacaan, qurra, otografi, mesin cetak, dan kekuasaan.” Rupanya Luthfi membajak dari orientalis Wansbrough.
Orientalis Wansbrough menulis bahwa Quran itu adalah produksi editing tidak sempurna di masa kemudian dari bermacam-macam, seperti dikutip dalam buku Crone-Cook “Hagarism”. Mengenai kapan Quran itu disusun, demikian Wansbrough, penulis hanya bisa menerka dari penanggalan manuskrip-manuskrip yang ada. Dari sini, penulis bisa menyimpulkan bahwa Quran tidak eksis sebelum akhir abad VII.
Referensi tertua dari luar tradisi literatur Islam mengenai sebuah buku yang dinamakan dengan “Quran” timbul pada pertengahan abad VIII dari tulisan pembicaraan antara seorang Arab dan seorang pendeta dari Bet Hale. Namun ini belum tentu menunjuk pada buku yang kita kenal sekarang. Baik Crone maupun Cook, menyimpulkan bahwa selain referensi kecil ini, tidak ada indikasi apapun bahwa Quran eksis sebelum akhir abad VII.
Dalam riset mereka, baik Crone dan Cook bersikeras bahwa kemungkinan besar, Quran (atau dalam bentuk permulaan) disusun sebagai bukunya Muhammad pada masa gubernur Hajjaj bin Yusuf (663-714), sekitar tahun 705.
Dari kesaksian Leo by Levond, gubernur Hajjaj tampak telah mengumpulkan semua tulisan-tulisan kaum Hagarene dan menggantikannya dengan versi yang disusun “menurut keinginannya, dan membagikannya kepada siapa pun di negerinya”.
Di sinilah pangkal kekeliruan para orientalis, mereka mengasumsikan bahwa Alquran adalah dokumen tertulis atau teks, bukan “hafalan yang dibaca”. Ini sungguh berbeda dengan kasus Bible, yang bersumberkan manuskrip pada papyrus, perkamen, dan sebagainya, yang memegang peran utama dan berfungsi sebagai acuan dan landasan bagi Bible.
Dengan asumsi keliru ini, yaitu menganggap Alquran semata-mata sebagai teks, mereka lantas mau menerapkan metode-metode filologi yang lazim digunakan dalam penelitian Bibel, seperti historical criticism, source criticism, form criticism, dan textual criticism.
Padahal terhadap Alquran, tulisan yang ada berfungsi sebagai penunjang semata-mata. Namun, walaupun demikian, tulisan atau musshaf dalam wujud musshaf Rasm ‘Utsmaniy yang mengacu pada bacaan, dikontrol oleh sistem keterkaitan matematis kelipatan 19.
Rasm ‘Utsmaniy yang pada mulanya gundul tanpa titik, tanpa tanda baca, tidaklah berubah jumlah huruf dengan pemberian titik dan tanda baca.
Firman Allah dalam S Al-Baqarah, 2:1-2: — ALM (1), dibaca Alif, Lam, Mim — DzLK ALKTB LA RYB FYH HDY LLMTQYN (2), dibaca: dzaalikal kitaabu laa rayba fiihi hudal lilmuttaqiin. Artinya, Al-Kitab ini tiada keraguan di dalamnya petunjuk bagi para muttaqin.
***
Ayat 1 adalah kode matematis bagaimana caranya Allah memelihara Al-Kitab. Semua Surah yang dibuka dengan Alif, Lam, Mim, termasuk Surah yang dibuka dengan Alif, Lam, Mim, Ra dan Alif, Lam, Mim Shad, tegasnya semua surah yang dibuka dengan ketiga huruf persekutuan Alif, Lam, Mim, maka jumlah huruf Alif + Lam + Mim dalam semua surah itu adalah kelipatan 19.
***
Seperti dijelaskan di atas bahwa teks mengacu pada bacaan yang terpelihara dalam bacaan salat Tarawih dalam bulan Ramadan, maka dalam musshaf ‘Utsmaniy diberi petunjuk cara membacanya berupa tanda tiga titik dalam ayat 2 (seperti titik pada huruf ‘tsa’ dan ‘syin’) terletak di atas kata “RYB” dan “FYH”.
Tanda tiga titik di atas dua kata tersebut dalam ayat 2 menunjukkan mukjizat lughawiyah, yaitu ayat 2 dapat bermakna dua yang keduanya mempunyai keutamaan masing-masing. Ada dua cara dalam membaca ayat 2 tersebut, yaitu dapat berhenti pada kata RYB, dan dapat pula berhenti pada kata FYH. Kedua cara bacaan tersebut menghasilkan penekanan dalam bobot yang berbeda, namun yang satu dengan yang lain saling bersinergi, saling mengisi.
Mari kita baca ayat 2. Cara yang pertama, berhenti pada kata RYB: Dzaalikal kitaabu laa rayba, berhenti sebentar kemudian dilanjutkan dengan fiihi hudal lil muttaqiin. Kalau kita membaca serupa ini maka maknanya ialah: Inilah Al Kitab tiada keraguan, pernyataan tegas dari Allah bahwa Kitab Suci ini tiada keraguan sumbernya dari Allah swt, kemudian dilanjutkan dengan: di dalamnya mengandung petunjuk bagi para muttaqin.
Jadi cara membaca yang pertama ini bobotnya pada penegasan dari Allah swt bahwa tiada keraguan bahwa Kitab Suci itu bersumber dari Allah swt.
Cara yang kedua, berhenti pada kata FYH: Dzaalikal kitaabu laa rayba fiihi, berhenti sebentar kemudian dilanjutkan dengan hudal lil muttaqiin. Cara membaca yang kedua ini bermakna: Inilah Al Kitab tiada keraguan di dalamnya, jadi bobot cara pembacaan kedua ini ialah “tiada keraguan” mengenai ayat-ayat Kitab Suci tersebut, di antaranya jaminan Allah bahwa Allah memelihara Al-Kitab seperti yang telah dikemukakan dalam ayat (15:9) di atas. Kami turunkan Al Dzikr (Alquran dan Al-Kitab) dan seungguhnya Kami memeliharanya. (*)
Iqra’ Menampar Orientalis Wansbrough Oleh: H Muh Nur Abdurrahman
Tidak ada komentar:
Posting Komentar